KUMPULAN NOVEL TENTANG IBU
NOVEL 1
Cerita sedih, izinkan Aku Menciumu Ibu
Sewaktu masih kecil, aku sering merasa dijadikan pembantu olehnya. Ia selalu menyuruhku mengerjakan tugas-tugas seperti menyapu lantai dan mengepelnya setiap pagi dan sore. Setiap hari, aku ‘dipaksa’ membantunya memasak di pagi buta sebelum ayah dan adik-adikku bangun.
Bahkan sepulang sekolah, ia tak mengizinkanku bermain sebelum semua pekerjaan rumah dibereskan. Sehabis makan, aku pun harus mencucinya sendiri juga piring bekas masak dan makan yang lain. Tidak jarang aku merasa kesal dengan semua beban yang diberikannya hingga setiap kali mengerjakannya aku selalu bersungut-sungut.
Kini, setelah dewasa aku mengerti kenapa dulu engkau melakukan itu semua. Karena aku juga akan menjadi seorang istri dari suamiku, ibu dari anak-anakku yang tidak akan pernah lepas dari semua pekerjaan masa kecilku dulu. Terima kasih ibu, karena engkau aku menjadi istri yang baik dari suamiku dan ibu yang dibanggakan oleh anak-anakku.
Saat pertama kali aku masuk sekolah di Taman Kanak-Kanak, ia yang mengantarku hingga masuk ke dalam kelas. Dengan sabar pula ia menunggu. Sesekali kulihat dari jendela kelas, ia masih duduk di seberang sana. Aku tak peduli dengan setumpuk pekerjaannya di rumah, dengan rasa kantuk yang menderanya, atau terik, atau hujan. Juga rasa jenuh dan bosannya menunggu. Yang penting aku senang ia menungguiku sampai bel berbunyi.
Kini, setelah aku besar, aku malah sering meninggalkannya, bermain bersama teman-teman, bepergian. Tak pernah aku menungguinya ketika ia sakit, ketika ia membutuhkan pertolonganku disaat tubuhnya melemah. Saat aku menjadi orang dewasa, aku meninggalkannya karena tuntutan rumah tangga.
Di usiaku yang menanjak remaja, aku sering merasa malu berjalan bersamanya. Pakaian dan dandanannya yang kuanggap kuno jelas tak serasi dengan penampilanku yang trendi. Bahkan seringkali aku sengaja mendahuluinya berjalan satu-dua meter didepannya agar orang tak menyangka aku sedang bersamanya.
Padahal menurut cerita orang, sejak aku kecil ibu memang tak pernah memikirkan penampilannya, ia tak pernah membeli pakaian baru, apalagi perhiasan. Ia sisihkan semua untuk membelikanku pakaian yang bagus-bagus agar aku terlihat cantik, ia pakaikan juga perhiasan di tubuhku dari sisa uang belanja bulanannya.
Padahal juga aku tahu, ia yang dengan penuh kesabaran, kelembutan dan kasih sayang mengajariku berjalan. Ia mengangkat tubuhku ketika aku terjatuh, membasuh luka di kaki dan mendekapku erat-erat saat aku menangis.
Selepas SMA, ketika aku mulai memasuki dunia baruku di perguruan tinggi. Aku semakin merasa jauh berbeda dengannya. Aku yang pintar, cerdas dan berwawasan seringkali menganggap ibu sebagai orang bodoh, tak berwawasan hingga tak mengerti apa-apa. Hingga kemudian komunikasi yang berlangsung antara aku dengannya hanya sebatas permintaan uang kuliah dan segala tuntutan keperluan kampus lainnya.
Usai wisuda sarjana, baru aku mengerti, ibu yang kuanggap bodoh, tak berwawasan dan tak mengerti apa-apa itu telah melahirkan anak cerdas yang mampu meraih gelar sarjananya. Meski Ibu bukan orang berpendidikan, tapi do’a di setiap sujudnya, pengorbanan dan cintanya jauh melebihi apa yang sudah kuraih. Tanpamu Ibu, aku tak akan pernah menjadi aku yang sekarang.
Pada hari pernikahanku, ia menggandengku menuju pelaminan. Ia tunjukkan bagaimana meneguhkan hati, memantapkan langkah menuju dunia baru itu. Sesaat kupandang senyumnya begitu menyejukkan, jauh lebih indah dari keindahan senyum suamiku. Usai akad nikah, ia langsung menciumku saat aku bersimpuh di kakinya. Saat itulah aku menyadari, ia juga yang pertama kali memberikan kecupan hangatnya ketika aku terlahir ke dunia ini.
Kini setelah aku sibuk dengan urusan rumah tanggaku, aku tak pernah lagi menjenguknya atau menanyai kabarnya. Aku sangat ingin menjadi istri yang shaleh dan taat kepada suamiku hingga tak jarang aku membunuh kerinduanku pada Ibu.
Sungguh, kini setelah aku mempunyai anak, aku baru tahu bahwa segala kiriman uangku setiap bulan untuknya tak lebih berarti dibanding kehadiranku untukmu. Aku akan datang dan menciummu Ibu, meski tak sehangat cinta dan kasihmu kepadaku.
Ya Allah ampunilah aku dan kedua Orangtuaku, dan sayangilah mereka sebagaimana meeka menyayangi aku sewaktu aku masih anak anak
NOVEL 2
Air Mata Terakhir Bunda
Dalam
rangka hari ibu, 22 Desember 2011, kupersembahkan review novel Air Mata
Terakhir Bunda, selamat membaca, jk tertarik, baca novelnya dan
dapatkan kisah cinta bunda di novel ini.[No. 281]
Judul : Air Mata Terakhir Bunda
Penulis : Kirana Kejora
Penerbit : Hi-Fest Publishing
Cetakan : I, 2011
Tebal : 202 hlm
Doa
ibu adalah segala hal bagi anak-anaknya. Ibu adalah tuhan kecil dengan
ketulusan cintanya. Dia tak pernah mengharapkan balasan apa-apa dari
anak-anaknya. Baginya tugasnya hanyalah memberi dan memberi. Mengandung,
melahirkan, menyusui, merawat, membesarkan hingga menghantarkan anaknya
menjadi manusia yang berguna adalah kewajiban dari cinta yang Tuhan
titipkan padanya (hal 8)
Itulah
gambaraan seorang ibu dimata penulis produktif asal Surabaya, Kirana
‘Key’ Kejora. Di novelnya yang ke 9 ini Key mengisahkan bagaimana doa,
ketulusan, kasih sayang, dan kegigihan seorang ibu
yang dalam kemiskinannya mampu melewati getirnya hidup dengan tegar
hingga anak-anaknya dapat meraih cita-cita dan impiannya.
Novel
yang diadaptasi dari kisah nyata ini menceritakan perjalanan hidup
seorang anak bernama Delta yang dibesarkan oleh seorang ibu yang begitu
mencintainya. Sriyani, ibu dari Delta dan Iqbal adalah seorang single parent yang harus berjuang membesarkan kedua anak laki-lakinya. Suaminya meninggalkannya begitu saja dan menikah kembali dengan wanita lain sementara hubungannya dengan Sriyani dibiarkannya menggantung tanpa status yang jelas.
Sementara
suaminya hidup berkecukupan dengan wanita lain, Sriyani tertatih-tatih
membesarkan kedua anak lelakinya. Walau hidup dalam kekurangan Sriyani
pantang meminta bantuan dari suaminya yang meninggalkannya. Untuk
memenuhi kebutuhannya sehari-hari dan membiayai sekolah kedua anaknya ia
menjadi buruh cuci setrika sambil berjualan lontong kupang, makanan khas kota lumpur Sidoarjo yang ia jajakan sendiri dengan sepeda tuanya.
Walau
hidup dalam kemiskinan namun Sriyani mendidik Delta dan Iqbal untuk
tidak meratapi kemiskinan mereka. Ia tidak ingin melihat anaknya sedih
dalam kemiskinan, dalam setiap kesempatan ia
selalu menekankan pada kedua anaknya bahwa kemiskinan bukanlah petaka
yang harus diratapi, tetapi harus dihadapi dengan bekerja dan bekerja.
Berbagai
kesulitan hidup menerpa kehidupan mereka namun bagi Sriyani kemiskinan
bukan halangan untuk membahagiakan anak-anaknya. Baginya dia selalu
berusahan memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya dengan sederhana dan
apa adanya. Dari ketegaran, kekuatan doa, dan cinta seorang ibu yang
dahsyat inilah Delta tumbuh dan bersekolah hingga ke jenjang perguruan
tinggi. Ketika gelar kesarjanaannya diraihnya, keinginannya terbesarnya
adalah mempersembahkan gelarnya pada ibunya yang begitu mencintainya
tanpa pamrih.
Di
novel setebal 204 halaman ini pembaca akan diajak menyusuri kehidupan
Delta dan ibunya. Kisah-kisah yang dihadirkan dalam setiap babnya
merupakan mozaik kehidupan keluarga ini yang harus bergelut dengan
kemiskinan untuk bertahan hidup. Dan ketika seluruh bab dalam novel ini
selesai kita baca maka akan terbentuklah sebuah lukisan indah akan
betapa agungnya ketulusan cinta seorang ibu pada anak-anaknya.
Walau menceritakan sebuah keluarga miskin namun novel yang juga mengambil setting terjadinya bencana lumpur Lapindo ini bukan novel yang cengeng, walau berjudul Air Mata Terakhir Bunda tidak ada kisah tangisan dalam novel ini karena seperti yang diungkapkan Delta tentang ibunya dalam novel ini
"Ibu
tidak pernah menangis di depan kami, kalaupun ingin menangis, ibu hanya
menggigit bibirnya kuat-kuat hingga berdarah, agar tangisnya tak
terdengar oleh kami, anak-anak yang selalu dikuatkan dengan kata-kata...
jangan
pernah menjual kesedihan dan tangismu hanya untuk masa depan, karena
masa depan adalah rancangan, kehidupan adalah sekarang, hadapi!
Novel
ini bukan novel yang bertangis-tangisan tetapi novel ini sanggup
membuat haru pembacanya melalui dialog-dialog antar tokohnya. Selain itu
novel ini juga menyampaikan
pesan kehidupan tentang ketegaran sebuah keluarga yang tidak menyerah
pada keadaannya dan ketulusan cinta dan pengorbanan seorang ibu yang
tentunya akan menginspirasi kita semua.
Diluar kisah Delta dan ibunya, novel ini juga memberikan beberapa hal yang menambah wawasan pembacanya yaitu uraian
kronologis mengenai penyebab terjadinya tragedi lumpur lapindo,
kearifan lokal dari legenda misteri Candi Pari (candi purba di
Siring-Porong), sejarah komedi putar pertama di dunia, hingga lontong
kupang yang merupakan makanan khas kota lumpur Sidoarjo.
Sebagai
sebuah novel yang mengangkat kisah perjuangan dan pengorbanan seorang
ibu saya rasa novel ini berhasil mengungkapkan gambaran betapa
dahsyatnya kekuatan doa dan cinta sejati seorang ibu pada anak-anaknya,
hanya saja yang agak disayangkan novel ini saya rasa kurang memberi
gambaran yang dramatis tentang tragedi lumpur Lapindo yang merupakan
bagian dari setting kisah di novel ini.
Dampak
tragedi lumpur Lapindo memang terungkap dalam novel ini, namun yang
diangkat adalah orang-orang diluar tokoh utamanya, lalu bagaimana dengan
dampaknya bagi keluarga Sriyani? Rasanya tragedi ini seolah tak terlalu
menyentuh kehidupan Sriyani dan keluarganya. Seperinya akan lebih
dramatis jika tragedi ini menyentuh langsung kehidupan keluarga Sriyani
sehingga tokoh Sriyani dan keluarganya dapat mewakili bagaimana
menderitanya rakyat kecil akibat bencana yang saat ini masih terus
berlangsung namun ironisnya sudah sudah mulai dilupakan orang.
Terlepas
dari hal diatas novel ini tampaknya cukup berhasil menarik minat
pembacanya, promo novel yang dilakukan secara gencar di berbagai kota
dan sosial media berbuahkan hasil yang menggembirakan. Setelah 3 minggu
beredar di toko-toko buku sebanyak 5000 ekslempar, novel ini dikabarkan
siap untuk dicetak ulang. Sebuah pencapaian yang luar biasa untuk novel
yang diterbitkan secara indie ini. Kabar terakhir, novel ini juga telah
dipesan oleh sebuah BUMN untuk mendukung program yang berkaitan dengan
keluarga.
Akhir kata, semoga dengan
semakin banyaknya orang yang membaca novel ini, kegigihan, ketabahan,
kesabaran , dan doa seorang ibu dapat mengguhak kesadaran pembacanya
untuk selalu menghargai peran seorang ibu sebagai pribadi istimewa yang
dipercayakan oleh Tuhan untuk melahirkan dan membesarkan generasi penerus pewaris bumi ciptaanNya.
NOVEL 3
Ketabahan Seorang Ibu
Kisah seorang anak perempuan yang harus
bisa menghadapi cobaan hidup karena faktor keluarga yang berantakan.
Anak perempuan itu bernama Mimi. Seorang anak yang berbakti kepada kedua
orang tuanya terutama dengan ibu. Dia mempunyai dua adik yaitu Aldi dan
Rifka. Dia menceritakan kehidupannya sewaktu masih kecil ketika ayah
berlaku kasar dengan ibu nya. Ayah selalu memarahi ibu karena tidak
becus mengurus rumah hingga ibu hanya bisa terdiam dan menangis tanpa
melakukan pembelaan. Sikap seorang ibu yang tabah dalam menghadapi
lika-liku kehidupan tumah tangga tanpa ada rasa benci terhadap sang
suami. Seorang ibu yang selalu memendam rasa sedihnya agar tidak dilihat
seorang anak. Hal itu yang membuat seorang anak merasa bangga mempunyai
ibu yang kuat dalam menghadapi kehidupan.
Penulis menceritakan tentang kehebatan
dan ketegaran seorang ibu dalam membangun keluarga agar tetap utuh. Ayah
memang selalu berperilaku kasar pada ibu, hingga akhirnya ayah
memutuskan untuk pergi meninggalkan keluarga. Sebelum ayah pergi, ayah
mengantar Mimi pergi ke sekolah. Saat itu juga dia heran dengan tingkah
laku ayah yang tidak seperti hari biasanya. Setelah mengantarkan dia
sekolah ayah pergi tanpa berpamitan dengannya. Kepergian ayah membuat
Mimi senang Karena tidak ada lagi yang memarahi ibu, tetapi sedihnya
Mimi rindu dengan sosok ayah. Setiap dia bertanya kapan ayah pulang, ibu
selalu hanya tediam dan menebarkan senyum kepadanya. Terlihat dengan
jelas ada yang disembunyikan di wajah ibu. Mimi selalu ingat perbuatan
ayah yang selalu memarahi ibu hingga membuat dia benci dengan ayah.
Mereka pun hidup berempat dengan nyaman bahkan dia sudah lupa dengan
sosok ayah dan sekarang ibu menjadi tulang punggung keluarga.
Saat Mimi duduk di bangku SMA, dia
mengenal Kaka. Kaka anak pemilik Yayasan sekolah dan dia selalu aktif
dalam organisasi. Dari pertemuan Mimi dengan Kaka membuat hidupnya
semakin bewarna. Walaupun begitu, permasalahan pun muncul ketika Mimi
mengenal dia karena Reva naksir dengan Kaka. Hingga akhirnya Mimi jatuh
cinta dengan Kaka. Saat itu muncul masalah baru tentang gosip bahwa ibu
dituduh merebut suami orang. Ternyata yang membuat gosip adalah ibu dari
Revi. Tanpa sengaja Mimi bertemu dengan Antoni yaitu sepupunya ayah.
Antoni memceritakan tentang keberadaan ayah. Saat Mimi ingin mencari
ayah, ibu melarangnya. Mimi pun tetap nekat untuk mencari ayah karena
Aldi dan Rifka sangat merindukan sosok ayah. Setelah menggali informasi
ternyata ayah berada di Riau. Mimi ditemani Kaka untuk mencari ayah.
Setelah sampai di Riau ayah berada di Medan. Mimi pun bertemu dengan
Makde Nunu yang sering akrab dipanggil Makde. Kakak dari ayahnya yang
menceritakan bahwa ayah dan ibunya itu telah bercerai.
Ayah Mimi menikah lagi dengan pilihan
neneknya namun pernikahan mereka berantakan. Mendengar hal itu Mimi
sangat terpukul bahkan Ibu juga telah mengetahui hal itu sebelumnya. Ibu
pun telah mengetahui hal itu sebelumnya. Bahkan Mimi ingat sewaktu
kecil dulu ayah berpelukan dengan ibu pertanda bahwa mereka akan
berpisah. Betapa bodohnya Mimi dulu tidak mengetahui hal itu. Makde pun
menceritakan kepergian ayah, ia mengatakan bahwa ibu Mimi memberikan
syarat pada ayah agar ia tidak menemui anak-anaknya sebelum anak-anaknya
menginginkan ayah untuk hadir di rumah. Di sinilah Mimi sadar kalau
selama ini yang menghalangi kepulangan ayahnya adalah kebenciannya
terhadap ayahnya. Bagi seorang ibu mungkin akan berpeilaku seperti itu
ketika seorang suami sudah meninggalkan goresan luka dihatinya. Begitu
Mimi pulang, ia menemukan ayah dan ibunya berkumpul bersama Aldi dan
Rifka. Ternyata Makde telah menceritakan kedatangan Mimi di Medan. Hal
itu diceritakan kembali ke ayahnya hingga ayahnya pun meminta maaf
kepada ibu. Keluarga Mimi pun bersatu kembali. Begitu pula hubungan Mimi
dan Kaka pun resmi berpacaran.
Penulis memaparkan cerita secara detail
sehingga pembaca dapat memahami makna dari bacaan yang disampaikan.
Pemilihan kata juga mudah dipahami serta menggunakan bahasa sehari-hari.
Cara penulis menuturkan isi cerita secara halus dan penuh makna
sehingga tidak bertele-tele. Dalam membaca novel ini pembaca akan
berimajinasi dan membentuk skenario sehingga pembaca dapat membayangkan
isi cerita yang disampaikan penulis dalam kehidupan nyata. Sinopsisi
yang ditulis oleh penulis membuat pembaca ingin segera membacanya karena
penasaran akan isi cerita yang akan disampaikan. Penulis juga
memberikan sentuhan positif terhadap perilaku yang diperankan oleh
tokohnya. Setiap bagian cerita terdapat hal-hal yang menarik sehingga
pembaca dapat termotivasi. Novel ini juga dapat dijadikan panutan dalam
memahami sikap seorang ibu dengan ketegarannya. Isi dari novel ini
banyak yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari serta bisa dikatakan
sebagai kisah nyata. Novel ini juga baik untuk dibaca oleh anak remaja
agar mereka dapat lebih berbakti lagi dengan ibunya dan bisa melihat
bahwa ibu merupakan seseorang yang harus dikagumi.
Selain itu, Dalam penulisan novel ini
banyak kesalahan dalam penulisan ceritanya sehingga pembaca kesulitan
dalam menggabungkan kata demi katanya. Sampul depan novel kurang menarik
terlalu sederhana dan sehingga membuat pembaca merasa malas untuk
membacanya, karena merasa bahwa novel ini akan membosankan. Lembar
halaman juga terlalu sederhana tidak ada hiasan-hiasan sehingga
mengurangi keindahan novel ini. Kertas yang digunakan sangat tipis
sehingga mudah sobek. Daftar isi cerita menggunakan bahasa yang
sederhana sehingga tidak ada kata-kata kiasan dan pembaca sudah bisa
mengetahui alur cerita yang ingin disampaikan penulis. Dalam Biodata
penulis akan lebih bagus jika di tambah foto sehingga pembaca mengetahui
siapa pengarang cerita ini. Akhir cerita pada novel ini kurang menarik
dan perlu ditambah kalimat yang membuat pembaca berimajinasi.
Novel ini mencoba mengungkapkan ketegaran
yang dimiliki seorang ibu. Ibu yang selalu bisa menahan air mata jatuh
ketika seorang anak bertanya tentang sosok ayah. Serta sosok anak yang
yang sudah bisa menjalani kehidupan yang penuh masalah. Banyak fakta
yang ada didalam novel ini sehingga menjadikan novel ini seperti dalam
kehidupan nyata. Novel ini juga memberikan kisah cinta dan kasih ibu
yang tak terbalas oleh apa pun. Melalui novel ini pembaca akan
terinspirasi dari sosok ibu dan akan membuat pembaca lebih berbakti lagi
dengan seorang ibu. Pembaca juga akan menemukan kekuatan dari sosok ibu
yang bisa menjalani hidup seorang diri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar