Senin, 28 September 2015

KUMPULAN NOVEL TENTANG IBU

NOVEL 1

Cerita sedih, izinkan Aku Menciumu Ibu

ibu
Sewaktu masih kecil, aku sering merasa dijadikan pembantu olehnya. Ia selalu menyuruhku mengerjakan tugas-tugas seperti menyapu lantai dan mengepelnya setiap pagi dan sore. Setiap hari, aku ‘dipaksa’ membantunya memasak di pagi buta sebelum ayah dan adik-adikku bangun.
Bahkan sepulang sekolah, ia tak mengizinkanku bermain sebelum semua pekerjaan rumah dibereskan. Sehabis makan, aku pun harus mencucinya sendiri juga piring bekas masak dan makan yang lain. Tidak jarang aku merasa kesal dengan semua beban yang diberikannya hingga setiap kali mengerjakannya aku selalu bersungut-sungut.
Kini, setelah dewasa aku mengerti kenapa dulu engkau melakukan itu semua. Karena aku juga akan menjadi seorang istri dari suamiku, ibu dari anak-anakku yang tidak akan pernah lepas dari semua pekerjaan masa kecilku dulu. Terima kasih ibu, karena engkau aku menjadi istri yang baik dari suamiku dan ibu yang dibanggakan oleh anak-anakku.
Saat pertama kali aku masuk sekolah di Taman Kanak-Kanak, ia yang mengantarku hingga masuk ke dalam kelas. Dengan sabar pula ia menunggu. Sesekali kulihat dari jendela kelas, ia masih duduk di seberang sana. Aku tak peduli dengan setumpuk pekerjaannya di rumah, dengan rasa kantuk yang menderanya, atau terik, atau hujan. Juga rasa jenuh dan bosannya menunggu. Yang penting aku senang ia menungguiku sampai bel berbunyi.
Kini, setelah aku besar, aku malah sering meninggalkannya, bermain bersama teman-teman, bepergian. Tak pernah aku menungguinya ketika ia sakit, ketika ia membutuhkan pertolonganku disaat tubuhnya melemah. Saat aku menjadi orang dewasa, aku meninggalkannya karena tuntutan rumah tangga.
Di usiaku yang menanjak remaja, aku sering merasa malu berjalan bersamanya. Pakaian dan dandanannya yang kuanggap kuno jelas tak serasi dengan penampilanku yang trendi. Bahkan seringkali aku sengaja mendahuluinya berjalan satu-dua meter didepannya agar orang tak menyangka aku sedang bersamanya.
Padahal menurut cerita orang, sejak aku kecil ibu memang tak pernah memikirkan penampilannya, ia tak pernah membeli pakaian baru, apalagi perhiasan. Ia sisihkan semua untuk membelikanku pakaian yang bagus-bagus agar aku terlihat cantik, ia pakaikan juga perhiasan di tubuhku dari sisa uang belanja bulanannya.
Padahal juga aku tahu, ia yang dengan penuh kesabaran, kelembutan dan kasih sayang mengajariku berjalan. Ia mengangkat tubuhku ketika aku terjatuh, membasuh luka di kaki dan mendekapku erat-erat saat aku menangis.
Selepas SMA, ketika aku mulai memasuki dunia baruku di perguruan tinggi. Aku semakin merasa jauh berbeda dengannya. Aku yang pintar, cerdas dan berwawasan seringkali menganggap ibu sebagai orang bodoh, tak berwawasan hingga tak mengerti apa-apa. Hingga kemudian komunikasi yang berlangsung antara aku dengannya hanya sebatas permintaan uang kuliah dan segala tuntutan keperluan kampus lainnya.
Usai wisuda sarjana, baru aku mengerti, ibu yang kuanggap bodoh, tak berwawasan dan tak mengerti apa-apa itu telah melahirkan anak cerdas yang mampu meraih gelar sarjananya. Meski Ibu bukan orang berpendidikan, tapi do’a di setiap sujudnya, pengorbanan dan cintanya jauh melebihi apa yang sudah kuraih. Tanpamu Ibu, aku tak akan pernah menjadi aku yang sekarang.
Pada hari pernikahanku, ia menggandengku menuju pelaminan. Ia tunjukkan bagaimana meneguhkan hati, memantapkan langkah menuju dunia baru itu. Sesaat kupandang senyumnya begitu menyejukkan, jauh lebih indah dari keindahan senyum suamiku. Usai akad nikah, ia langsung menciumku saat aku bersimpuh di kakinya. Saat itulah aku menyadari, ia juga yang pertama kali memberikan kecupan hangatnya ketika aku terlahir ke dunia ini.
Kini setelah aku sibuk dengan urusan rumah tanggaku, aku tak pernah lagi menjenguknya atau menanyai kabarnya. Aku sangat ingin menjadi istri yang shaleh dan taat kepada suamiku hingga tak jarang aku membunuh kerinduanku pada Ibu.
Sungguh, kini setelah aku mempunyai anak, aku baru tahu bahwa segala kiriman uangku setiap bulan untuknya tak lebih berarti dibanding kehadiranku untukmu. Aku akan datang dan menciummu Ibu, meski tak sehangat cinta dan kasihmu kepadaku.
Ya Allah ampunilah aku dan kedua Orangtuaku, dan sayangilah mereka sebagaimana meeka menyayangi aku sewaktu aku masih anak anak




NOVEL 2



Air Mata Terakhir Bunda

Dalam rangka hari ibu, 22 Desember 2011, kupersembahkan review novel Air Mata Terakhir Bunda, selamat membaca, jk tertarik, baca novelnya dan dapatkan kisah cinta bunda di novel ini.

[No. 281]
Judul : Air Mata Terakhir Bunda
Penulis : Kirana Kejora
Penerbit : Hi-Fest Publishing
Cetakan : I, 2011
Tebal : 202 hlm

Doa ibu adalah segala hal bagi anak-anaknya. Ibu adalah tuhan kecil dengan ketulusan cintanya. Dia tak pernah mengharapkan balasan apa-apa dari anak-anaknya. Baginya tugasnya hanyalah memberi dan memberi. Mengandung, melahirkan, menyusui, merawat, membesarkan hingga menghantarkan anaknya menjadi manusia yang berguna adalah kewajiban dari cinta yang Tuhan titipkan padanya (hal 8)
Itulah gambaraan seorang ibu dimata penulis produktif asal Surabaya, Kirana ‘Key’ Kejora. Di novelnya yang ke 9 ini Key mengisahkan bagaimana doa, ketulusan, kasih sayang, dan kegigihan seorang ibu yang dalam kemiskinannya mampu melewati getirnya hidup dengan tegar hingga anak-anaknya dapat meraih cita-cita dan impiannya.
Novel yang diadaptasi dari kisah nyata ini menceritakan perjalanan hidup seorang anak bernama Delta yang dibesarkan oleh seorang ibu yang begitu mencintainya. Sriyani, ibu dari Delta dan Iqbal adalah seorang single parent yang harus berjuang membesarkan kedua anak laki-lakinya. Suaminya meninggalkannya begitu saja dan menikah kembali dengan wanita lain sementara hubungannya dengan Sriyani dibiarkannya menggantung tanpa status yang jelas.
Sementara suaminya hidup berkecukupan dengan wanita lain, Sriyani tertatih-tatih membesarkan kedua anak lelakinya. Walau hidup dalam kekurangan Sriyani pantang meminta bantuan dari suaminya yang meninggalkannya. Untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari dan membiayai sekolah kedua anaknya ia menjadi buruh cuci setrika sambil berjualan lontong kupang, makanan khas kota lumpur Sidoarjo yang ia jajakan sendiri dengan sepeda tuanya.
Walau hidup dalam kemiskinan namun Sriyani mendidik Delta dan Iqbal untuk tidak meratapi kemiskinan mereka. Ia tidak ingin melihat anaknya sedih dalam kemiskinan, dalam setiap kesempatan ia selalu menekankan pada kedua anaknya bahwa kemiskinan bukanlah petaka yang harus diratapi, tetapi harus dihadapi dengan bekerja dan bekerja.
Berbagai kesulitan hidup menerpa kehidupan mereka namun bagi Sriyani kemiskinan bukan halangan untuk membahagiakan anak-anaknya. Baginya dia selalu berusahan memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya dengan sederhana dan apa adanya. Dari ketegaran, kekuatan doa, dan cinta seorang ibu yang dahsyat inilah Delta tumbuh dan bersekolah hingga ke jenjang perguruan tinggi. Ketika gelar kesarjanaannya diraihnya, keinginannya terbesarnya adalah mempersembahkan gelarnya pada ibunya yang begitu mencintainya tanpa pamrih.
Di novel setebal 204 halaman ini pembaca akan diajak menyusuri kehidupan Delta dan ibunya. Kisah-kisah yang dihadirkan dalam setiap babnya merupakan mozaik kehidupan keluarga ini yang harus bergelut dengan kemiskinan untuk bertahan hidup. Dan ketika seluruh bab dalam novel ini selesai kita baca maka akan terbentuklah sebuah lukisan indah akan betapa agungnya ketulusan cinta seorang ibu pada anak-anaknya.
Walau menceritakan sebuah keluarga miskin namun novel yang juga mengambil setting terjadinya bencana lumpur Lapindo ini bukan novel yang cengeng, walau berjudul Air Mata Terakhir Bunda tidak ada kisah tangisan dalam novel ini karena seperti yang diungkapkan Delta tentang ibunya dalam novel ini
"Ibu tidak pernah menangis di depan kami, kalaupun ingin menangis, ibu hanya menggigit bibirnya kuat-kuat hingga berdarah, agar tangisnya tak terdengar oleh kami, anak-anak yang selalu dikuatkan dengan kata-kata...
jangan pernah menjual kesedihan dan tangismu hanya untuk masa depan, karena masa depan adalah rancangan, kehidupan adalah sekarang, hadapi!
Novel ini bukan novel yang bertangis-tangisan tetapi novel ini sanggup membuat haru pembacanya melalui dialog-dialog antar tokohnya. Selain itu novel ini juga menyampaikan pesan kehidupan tentang ketegaran sebuah keluarga yang tidak menyerah pada keadaannya dan ketulusan cinta dan pengorbanan seorang ibu yang tentunya akan menginspirasi kita semua.
Diluar kisah Delta dan ibunya, novel ini juga memberikan beberapa hal yang menambah wawasan pembacanya yaitu uraian kronologis mengenai penyebab terjadinya tragedi lumpur lapindo, kearifan lokal dari legenda misteri Candi Pari (candi purba di Siring-Porong), sejarah komedi putar pertama di dunia, hingga lontong kupang yang merupakan makanan khas kota lumpur Sidoarjo.
Sebagai sebuah novel yang mengangkat kisah perjuangan dan pengorbanan seorang ibu saya rasa novel ini berhasil mengungkapkan gambaran betapa dahsyatnya kekuatan doa dan cinta sejati seorang ibu pada anak-anaknya, hanya saja yang agak disayangkan novel ini saya rasa kurang memberi gambaran yang dramatis tentang tragedi lumpur Lapindo yang merupakan bagian dari setting kisah di novel ini.
Dampak tragedi lumpur Lapindo memang terungkap dalam novel ini, namun yang diangkat adalah orang-orang diluar tokoh utamanya, lalu bagaimana dengan dampaknya bagi keluarga Sriyani? Rasanya tragedi ini seolah tak terlalu menyentuh kehidupan Sriyani dan keluarganya. Seperinya akan lebih dramatis jika tragedi ini menyentuh langsung kehidupan keluarga Sriyani sehingga tokoh Sriyani dan keluarganya dapat mewakili bagaimana menderitanya rakyat kecil akibat bencana yang saat ini masih terus berlangsung namun ironisnya sudah sudah mulai dilupakan orang.
Terlepas dari hal diatas novel ini tampaknya cukup berhasil menarik minat pembacanya, promo novel yang dilakukan secara gencar di berbagai kota dan sosial media berbuahkan hasil yang menggembirakan. Setelah 3 minggu beredar di toko-toko buku sebanyak 5000 ekslempar, novel ini dikabarkan siap untuk dicetak ulang. Sebuah pencapaian yang luar biasa untuk novel yang diterbitkan secara indie ini. Kabar terakhir, novel ini juga telah dipesan oleh sebuah BUMN untuk mendukung program yang berkaitan dengan keluarga.
Akhir kata, semoga dengan semakin banyaknya orang yang membaca novel ini, kegigihan, ketabahan, kesabaran , dan doa seorang ibu dapat mengguhak kesadaran pembacanya untuk selalu menghargai peran seorang ibu sebagai pribadi istimewa yang dipercayakan oleh Tuhan untuk melahirkan dan membesarkan generasi penerus pewaris bumi ciptaanNya.


NOVEL 3

 

Ketabahan Seorang Ibu

cahaya-surga-di-wajah-ibu-va-270x0

 

 


Kisah seorang anak perempuan yang harus bisa menghadapi cobaan hidup karena faktor keluarga yang berantakan. Anak perempuan itu bernama Mimi. Seorang anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya terutama dengan ibu. Dia mempunyai dua adik yaitu Aldi dan Rifka. Dia menceritakan kehidupannya sewaktu masih kecil ketika ayah berlaku kasar dengan ibu nya. Ayah selalu memarahi ibu karena tidak becus mengurus rumah hingga ibu hanya bisa terdiam dan menangis tanpa melakukan pembelaan. Sikap seorang ibu yang tabah dalam menghadapi lika-liku kehidupan tumah tangga tanpa ada rasa benci terhadap sang suami. Seorang ibu yang selalu memendam rasa sedihnya agar tidak dilihat seorang anak. Hal itu yang membuat seorang anak merasa bangga mempunyai ibu yang kuat dalam menghadapi kehidupan.
Penulis menceritakan tentang kehebatan dan ketegaran seorang ibu dalam membangun keluarga agar tetap utuh. Ayah memang selalu berperilaku kasar pada ibu, hingga akhirnya ayah memutuskan untuk pergi meninggalkan keluarga. Sebelum ayah pergi, ayah mengantar Mimi pergi ke sekolah. Saat itu juga dia heran dengan tingkah laku ayah yang tidak seperti hari biasanya. Setelah mengantarkan dia sekolah ayah pergi tanpa berpamitan dengannya. Kepergian ayah membuat Mimi senang Karena tidak ada lagi yang memarahi ibu, tetapi sedihnya Mimi rindu dengan sosok ayah. Setiap dia bertanya kapan ayah pulang, ibu selalu hanya tediam dan menebarkan senyum kepadanya. Terlihat dengan jelas ada yang disembunyikan di wajah ibu. Mimi selalu ingat perbuatan ayah yang selalu memarahi ibu hingga membuat dia benci dengan ayah. Mereka pun hidup berempat dengan nyaman bahkan dia sudah lupa dengan sosok ayah dan sekarang ibu menjadi tulang punggung keluarga.
Saat Mimi duduk di bangku SMA, dia mengenal Kaka. Kaka anak pemilik Yayasan sekolah dan dia selalu aktif dalam organisasi. Dari pertemuan Mimi dengan Kaka membuat hidupnya semakin bewarna. Walaupun begitu, permasalahan pun muncul ketika Mimi mengenal dia karena Reva naksir dengan Kaka. Hingga akhirnya Mimi jatuh cinta dengan Kaka. Saat itu muncul masalah baru tentang gosip bahwa ibu dituduh merebut suami orang. Ternyata yang membuat gosip adalah ibu dari Revi. Tanpa sengaja Mimi bertemu dengan Antoni yaitu sepupunya ayah. Antoni memceritakan tentang keberadaan ayah. Saat Mimi ingin mencari ayah, ibu melarangnya. Mimi pun tetap nekat untuk mencari ayah karena Aldi dan Rifka sangat merindukan sosok ayah. Setelah menggali informasi ternyata ayah berada di Riau. Mimi ditemani Kaka untuk mencari ayah. Setelah sampai di Riau ayah berada di Medan. Mimi pun bertemu dengan Makde Nunu yang sering akrab dipanggil Makde. Kakak dari ayahnya yang menceritakan bahwa ayah dan ibunya itu telah bercerai.
Ayah Mimi menikah lagi dengan pilihan neneknya namun pernikahan mereka berantakan. Mendengar hal itu Mimi sangat terpukul bahkan Ibu juga telah mengetahui hal itu sebelumnya. Ibu pun telah mengetahui hal itu sebelumnya. Bahkan Mimi ingat sewaktu kecil dulu ayah berpelukan dengan ibu pertanda bahwa mereka akan berpisah. Betapa bodohnya Mimi dulu tidak mengetahui hal itu. Makde pun menceritakan kepergian ayah, ia mengatakan bahwa ibu Mimi memberikan syarat pada ayah agar ia tidak menemui anak-anaknya sebelum anak-anaknya menginginkan ayah untuk hadir di rumah. Di sinilah Mimi sadar kalau selama ini yang menghalangi kepulangan ayahnya adalah kebenciannya terhadap ayahnya. Bagi seorang ibu mungkin akan berpeilaku seperti itu ketika seorang suami sudah meninggalkan goresan luka dihatinya. Begitu Mimi pulang, ia menemukan ayah dan ibunya berkumpul bersama Aldi dan Rifka. Ternyata Makde telah menceritakan kedatangan Mimi di Medan. Hal itu diceritakan kembali ke ayahnya hingga ayahnya pun meminta maaf kepada ibu. Keluarga Mimi pun bersatu kembali. Begitu pula hubungan Mimi dan Kaka pun resmi berpacaran.
Penulis memaparkan cerita secara detail sehingga pembaca dapat memahami makna dari bacaan yang disampaikan. Pemilihan kata juga mudah dipahami serta menggunakan bahasa sehari-hari. Cara penulis menuturkan isi cerita secara halus dan penuh makna sehingga tidak bertele-tele. Dalam membaca novel ini pembaca akan berimajinasi dan membentuk skenario sehingga pembaca dapat membayangkan isi cerita yang disampaikan penulis dalam kehidupan nyata. Sinopsisi yang ditulis oleh penulis membuat pembaca ingin segera membacanya karena penasaran akan isi cerita yang akan disampaikan. Penulis juga memberikan sentuhan positif terhadap perilaku yang diperankan oleh tokohnya. Setiap bagian cerita terdapat hal-hal yang menarik sehingga pembaca dapat termotivasi. Novel ini juga dapat dijadikan panutan dalam memahami sikap seorang ibu dengan ketegarannya. Isi dari novel ini banyak yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari serta bisa dikatakan sebagai kisah nyata. Novel ini juga baik untuk dibaca oleh anak remaja agar mereka dapat lebih berbakti lagi dengan ibunya dan bisa melihat bahwa ibu merupakan seseorang yang harus dikagumi.
Selain itu, Dalam penulisan novel ini banyak kesalahan dalam penulisan ceritanya sehingga pembaca kesulitan dalam menggabungkan kata demi katanya. Sampul depan novel kurang menarik terlalu sederhana dan sehingga membuat pembaca merasa malas untuk membacanya, karena merasa bahwa novel ini akan membosankan. Lembar halaman juga terlalu sederhana tidak ada hiasan-hiasan sehingga mengurangi keindahan novel ini. Kertas yang digunakan sangat tipis sehingga mudah sobek. Daftar isi cerita menggunakan bahasa yang sederhana sehingga tidak ada kata-kata kiasan dan pembaca sudah bisa mengetahui alur cerita yang ingin disampaikan penulis. Dalam Biodata penulis akan lebih bagus jika di tambah foto sehingga pembaca mengetahui siapa pengarang cerita ini. Akhir cerita pada novel ini kurang menarik dan perlu ditambah kalimat yang membuat pembaca berimajinasi.
Novel ini mencoba mengungkapkan ketegaran yang dimiliki seorang ibu. Ibu yang selalu bisa menahan air mata jatuh ketika seorang anak bertanya tentang sosok ayah. Serta sosok anak yang yang sudah bisa menjalani kehidupan yang penuh masalah. Banyak fakta yang ada didalam novel ini sehingga menjadikan novel ini seperti dalam kehidupan nyata. Novel ini juga memberikan kisah cinta dan kasih ibu yang tak terbalas oleh apa pun. Melalui novel ini pembaca akan terinspirasi dari sosok ibu dan akan membuat pembaca lebih berbakti lagi dengan seorang ibu. Pembaca juga akan menemukan kekuatan dari sosok ibu yang bisa menjalani hidup seorang diri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar